Tanda

Saya tidak membuat tulisan khusus pada perayaan 28 Tahun. Entahlah, saya seperti disergap banyak pertanyaan, termasuk perasaan yang selalu memaksa saya kembali pada sebagian besar ketakutan. Orang-orang renta yang saya temui, dan bendera-bendera putih yang berkibar di jalan-jalan, tandabetapa segalanya akan berujung pada sebuah tragedi pemutus itu.

Saya mendapat ucapan selamat dari istri, dari orang tua, dari saudara, sembari terus merenung, bertanya tentang makna, di atas kendaraan yang melaju, pikiran dan sebagian jiwa bergentayangan mencari sesuatu.

Saya mungkin putus asa, tapi tidak sampai kalah, lalu saya berteemu dengan seorang lelaki yang membawa sepotong hatinya yang patah. Siapa? Dia tidak menyebutkan namanya, hanya berlalu, sembari lekat melayangkan tatapannya yang rapuh. Lusuh, menyeret kakinya yang diikat beribu masa lalu.

Masa lalu akan selalu melengking menemani siapa saja (termasuk kau) menjejaki masa-masa datang yang bening. Adakalahnya, masa lalu seperti hantu, mungkin juga serupa bayang-bayang kematian yang hanya berjarak seujung kuku dari kerongkongan: bisa mencekikmu kapan saja.

Ada masa-masa kita kebingungan, membutuhkan jeda: berpikir, bisa pula sekadar bernostalgia, memanggil ingatan, mengajak dia bercerita, dan menyudahi segalanya meski kebingungan baru tetap menggantung di kepala kita yang mulai pening.

Di sini, di masa-masa yang bingar, kita menikmati banyak kepalsuan, merayakan kebahagian sembari bertopeng, kadang pura-pura tuli untuk sekadar peduli, meratap tanpa henti di dinding-dinding ratapan baru, di mana banyak wajah menyembunyikan ambisi dan rasa penasaran berlebihan.

Di sini, kita selalu ingin saling mengintip, saling mengumbar, saling merasa tinggi, lalu suatu saat kita akan menikmati hari-hari nelangsa sebab utusan-utusan akan datang membawa seribu pedang meminta jantung, juga kepala sebagai tumbal. Air mata dan darah hanya basa-basi sebab kita benar-benar akan bertemu dengan “pemutus” dengan ragam gaya. Mungkin sambil selfie, narsis-narsisan, kemudian napas ditarik tanpa ampun, sepi berdenting tanpa bunyi.

“Taroni cappu narekko pura moi rede”

Biar…! Biar habis, menguap tiada bersisa, karena setiap kita sejatinya hanya butuh pengakuan: melambungkan angan-angan dan mengumbarnya kemana-mana. Tak peduli dengan cara apa, sebab sejatinya kita hanya butuh jempol yang digerakkan dari tetikus atau basa-basi dari rangkaian huruf yang diketik dengan malas.(*)

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s