Kasihku!

Kekasihallah

Gelap hampir berganti  surya, aku terjaga, masih dengan kantuk yang menggantung di kelopakku. Samar terdengar lantunan kalammu. Dini hari yang syahdu, kala segenap hamba sibuk dengan lelap. Izinkan aku menyapa-Mu, mengecupmu, lalu belailah aku degan belaianmu. Aku ingin menyampai keluh, di atas hamparan sajadah kusam. Kusam taka pa bagimu. Semoga tulus selalu beserta hatiku yang mudah redup.

Gemiricik air, sejuk menerpa pori, masih dengan banyak lelap mengangkangi bumi. Kaki berat mengatur langkah, malas telah lebih dulu menyelinap. Bantal dan guling menggodaku, ta pi aku harus bertemu dengan-Mu, aku ingin merasa kecup termanismu, yang pernah kau bagi teruntuk hamba-hamba terkasihmu. Maka terimalah, dua rakaat kutegakkan. Berat. Terimalah!

Kekasih,

Masihkah salatku, hidupku, matiku, hanya kepada-Mu? Mungkin aku telah membuat rupa-Mu pada selainMu. Maafkan aku!

Kekasih!

Ajari aku makna kepatuhan. Pada jalan yang kutapak kuingin Kau menuntunku. Menggiring kebutaanku pada benderang-Mu. Aku tersesat terlalu jauh. Aku menduakan-Mu dengan ketidakpantasan apapun yang menyamaiMu. Kekasih. Izinkah aku menyulam kisah kasihku. Mungkin secuil, semoga ini beserta tulus yang sungguh!

Kekasih!

Mungkin besok, lusa, atau sedetik setelah kumengadu, malaikat maut akan menjemputku. Lalu persembahan apa yang pantas kuberi? Salat yang tak pernah khsyu? Tilawah tak rutin? Subuh tegak waktu dhuha? Atau salat yang tak pernah kukerjakan sampai usiaku seperti ini? Persembahan apa? Apa ibadah bergelimang riya dan laku takabbur yang harus kusemai sekadar tameng iman? Bahkan iman ini tak pantas kusebut lantaran rapuhnya telah berlumut.

Kekasih!

Aku mengadu di pintu kemahaan maafMu. Kau Cahaya di atas cahaya. Cahaya merajai cahaya. Tak ada yang menyerupai ataupun serupa denganMu. Kau tak pernah terbersit dalam logika dan imaji siapapun.kesempurnaan-Mu segalanya. Kau tertolak dari segala keterbatasan. Kau sesembahan segala-Nya. Maafkan aku. Maafkan lalaiku. Aku telah menghinakan raga yang telah Kau titipkan. Maafkan aku Kekasih!

Kekasih!

Mata yang kau titipkan tak bisa kujaga baik. Mengumbar tatapan, memburu fatamorgana dunia. Menyilaukan, mengeja mengikut ketidaklayakan hak, terlalu jauh mata ini menangkap sketsa birahi, dari ornamen-ornamen manusia tak berpakaian. Berpakaiaan, tapi sekadar secarik menutupi yang malu-malu ditampakkan. Ulahnya memanggang dunia. Semesta makin garang. Setelahnya! Mata ini jadi budak, rabun sebelum masanya. Syukur tidak buta.

Kekasih

Ini suratMu yang tak mampu kubaca. Atau hatiku sudah bebal, keras karang lantaran alfa memuja. Keberkahan menipis oleh tingkah menguras maknawi. Jangan jadikan aku budak nafsu, ijinkan hidayahmu merembes dalam pengab ruhku. Hidayahmu! Tuntun aku mengumpul kebajikan yang surut karena lupa.

Kekasih!

Sebelum segalanya terputus, biarkan kupersembahkan segal cinta terkasihku pada ibu, pada ayah. Padanya! Kuingin menyulam balas kebaikan, walau tak pernah dan tak mungkin setimpal. Sebelum segalnya melumatkan, izinkan kuhadiahkan sketsa bahagia untuknya, untuk mereka yang selalu kucinta. Dalam pinta hamba yang dina, curahkan kasih-sayangmu pada ibu, pada ayahku, pada amma, pada ambo, pada adik-adikku. Jadikan keluarga kecil ini pancaran permata Islammu. Kuucap kuncup doa, semoga Kau mengumpulan kami dalah surgamu, mengaruniakan karunia abadimu sepanjang masa kami menikmat kuasamu. Berikan bahagia dunia dan akhirat.

Kekasih!

Aku tersesat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s