Tanda

Saya tidak membuat tulisan khusus pada perayaan 28 Tahun. Entahlah, saya seperti disergap banyak pertanyaan, termasuk perasaan yang selalu memaksa saya kembali pada sebagian besar ketakutan. Orang-orang renta yang saya temui, dan bendera-bendera putih yang berkibar di jalan-jalan, betapa segalanya akan berujung pada sebuah tragedi pemutus itu. Saya mendapat ucapan selamat dari istri, dari orang… Lanjutkan membaca Tanda

Doa dan Hari Penuh Kejutan

Pada Sabtu, 14 Februari 2015 saya bergegas, berpendar sorot cahaya mentari yang masih malu-malu, motor meraung memecah pagi yang beku. Acara Pawai Bahasa yang digagas Kantor Balai Bahasa Provinsi Gorontalo mengundang Forum Lingkar Pena (FLP) Wilayah Gorontalo. Undangan mendadak, meminta 10-20 anggota ikut ramai. Setelah menyebar pemberitahuan lewat Group Sekolah Menulis FLP Gorontalo, jumlah peserta… Lanjutkan membaca Doa dan Hari Penuh Kejutan

Rumah Sakit Berubah Rumah Sehat dengan Green Hosipital

Entahlah!  Sejak kanak hingga punya anak, tempat yang paling saya hindari adalah rumah sakit. Ada kondisi traumatik yang telah tertanam terlalu lama, menghujam bagai pasak yang membumi, sulit tercabut. Saya selalu menganggap rumah sakit tak ubahnya tempat menumpuk “sakit” yang tak menawarkan kesembuhan paripurna. Rumah sakit terlalu horor, memasukinya meniupkan kesan pesimistik. Selalu saja ada… Lanjutkan membaca Rumah Sakit Berubah Rumah Sehat dengan Green Hosipital

ANA’ KUKANG

(A) Pada sesiapa sandaran? Pada pelipur lara yang menenangkan. Pada apa yang harusnya kau temui, biarkan lelahmu memanggil namaNya. Sesosok bayang menari, membiaskan senyum renta mengubur pelipur membenam kisah lama. Mimpimu masih sama. (L) Pantang bagimu mengemis pada kehidupan. Aku Pemilik Segala, menitipimu segala yang kau butuhkan. Bahkan hanya dengan paruh, pipit bisa bertahan .… Lanjutkan membaca ANA’ KUKANG

Kasihku!

Kekasih Gelap hampir berganti  surya, aku terjaga, masih dengan kantuk yang menggantung di kelopakku. Samar terdengar lantunan kalammu. Dini hari yang syahdu, kala segenap hamba sibuk dengan lelap. Izinkan aku menyapa-Mu, mengecupmu, lalu belailah aku degan belaianmu. Aku ingin menyampai keluh, di atas hamparan sajadah kusam. Kusam taka pa bagimu. Semoga tulus selalu beserta hatiku… Lanjutkan membaca Kasihku!